HOME
Kamis, 16 08 2018
Follow:
 
 

Jupernalis UKW dan Hari Tua Jurnalis
Jumat, 12/07/2013 - 15:16:52 WIB
JUPERNALIS Samosir, wartawan (jurnalis) senior  itu tutup usia sudah sebulan lalu.  Tepatnya hari Minggu, 9  Juni 2013. Masa pengabdiannya selaku wartawan sebagian besar dihabiskannya di Tanah Mellayu, Riau. Di akhir hayatnya, Jupernalis tercatat sebagai wartawan senior Majalah Berita Tempo. Tak sedikit tulisannya menghiasi halaman majalah berita itu yang menjadi sumber inspirasi dan kritik bagi pembangunan dan kemajuan Provinsi Riau.

Tak sedikit pula, relasi yang berhasil dibangunnya dengan banyak tokoh dari berbagai kalangan. Apalagi Jupernalis terbilang sosok yang mudah bergaul, tak tinggi hati, selalu tersenyum dalam suka dan duka dan tak memilah-milah diri dalam berteman.

Lelaki berpenampilan tenang  itu telah pergi untuk selama-lamanya. Ia pergi dengan segenap kisah perjuangan dan impian yang tak semuanya bisa dibaca oleh orang-orang yang ditinggalkannya. Ia meninggalkan anak, isteri dan teman-teman dari seluruh kalangan. Semua orang yang bersentuhan dekat dengannya pasti merasa kehilangan. Semua yang ditinggalkan Jupernalis tentu menjadi monumen kenangan yang tak akan mudah dilupakan oleh siapa pun.

Saya mengenal Jupernalis hampir sejak awal ia menjejakkan kaki di bumi Lancang Kuning ini. Kedatangannya pertamakali membawa nama besar majalah Tempo. Semua relasinya baik dari sesama kerabat wartawan maupun narasumber dari semua kalangan tokoh masyarakat,  dunia usaha hingga pemerintah  menaruh simpati dan rasa hormat. Kredibilitas dan bonafiditas majalah berita terkemuka di Indonesia itu cukup memberikan jaminan dalam segala hal.

Jupernalis  dalam pandangan saya  sejak dulu hingga akhir hayatnya termasuk seorang anak muda yang rendah hati. Media besar tempat ia bekerja sedikit pun tak membuat dirinya merasa perlu menyombongkan diri. Perbincangan kami setiap bertemu padamulanya lebih fokus pada perkembangan dan situasi Provinsi Riau secara keseluruhan. Keprihatinan dan harapan yang muncul saat berdiskusi terasa nyaris tak ada perbedaan di antara pandangan kami.

Sejak beberapa tahun terakhir, perbincangan saya dengan Jupernalis lebih tertuju pada masalah kesehatan kami masing-masing. Jupernalis mengaku pengidap penyakit diabetes. Saya pun bercerita pula soal penyakit yang sama. Setiap Jupernalis berobat pada dokter atau pengobatan alternatif, pastilah ia sharing pula ke saya. Begitu pula sebaliknya.  Boleh jadi, tempat berobat yang kami ceritakan masing-masing memang belum cocok saja.

Saya begitu terkejut membaca tulisan Hadir Tanjung, sahabat dekat Jupernalis   di sebuah situs. Haidir berkisah bagaimana kesulitan yang dialami Jupernalis dan keluarganya saat berobat melawan penyakit komplikasi yang dideritanya hingga harus menginap beberapa lama di rumah sakit. "Saat meninggalnya, Jupernalis yang menjadi wartawan Tempo itu tercatat sebagai pasien yang menggunakan fasilitas kartu berobat orang miskin," tulis Haidir. Ironis, sangat ironis, memang. Sebab, semua orang tahu, Jupernalis mengabdi cukup lama di majalah berita yang sangat bonafid itu.

Kisah tragis dan dramatis yang dialami Jupernalis benar-benar mengingatkan banyak orang bagaimana sesungguhnya seorang wartawan melewati hari-hari tuanya. Ini persoalan yang sudah menjadi turbulensi kegelisahan dan kegalauan para insan pers yang bekerja bertungkus-lumus menulis berita, menyoroti ketidakbenaran dan ketidak-adilan. Bahkan, risiko yang dihadapi pun tak tanggung-tanggung sebagaimana Kasus Udin atau penganiayaan yang dialami wartawan Riau TV saat meliput kecelakaan pesawat TNI-AU sampai mendapat perlakuan kasar seorang oknum kolonel.

Persoalan kesejahteraan wartawan dan keluarganya memang tak akan pernah terselesaikan. Cukup banyak wartawan yang bekerja di sebuah penerbit media, namun tidak mendapatkan gaji atau penghasilan yang memadai. Apalagi, jaminan kesehatan dan hari tua sebagai antisipasi bila menghadapi situasi dan kondisi terburuk dalam hidupnya.

Pertumbuhan dan perkembangan media yang sangat pesat di era media convergence, selain memacu laju pertambahan jumlah pelaku media juga semakin banyak menyisakan persoalan kesejahteraan. Meski sudah berulang-ulang organisasi wartawan seperti AJI, PWI, IJTI menetapkan stadar minimum upah atau gaji wartawan, namun kenyataannya masih banyak wartawan yang tak digaji sebagaimana mestinya. Masih banyak wartawan yang tidak mendapatkan perlindungan kesehatan, jaminan hari tua atau tunjangan kematian.

Wartawan senior, Rida K. Liamsi sejak lama menganalogikan penerbit pers selalu mengharapkan wartawannya bekerja profesional dan menghasilkan karya-karya jurnalistik bermutu laksana 'ayam bertelur emas'. Namun, di sisi lain, masih ada media yang memperlakukan wartawannya belum sepantasnya. Tak akan mungkin ayam akan mengeluarkan telur emas bilamana tidak diberi makanan yang cukup dan bergizi.

Upaya-upaya ke arah peningkatan kesejahteraan wartawan yang optimal memang terus dilakukan melalui gesaan organisasi profesi yang menaunginya. Melalui Dewan Pers, langkah nyata ke arah itu diwujudkan melalui Ujian Kompetensi Wartawan (UKW) yang bermuara pada bermunculannya wartawan profesional dan kompeten di negeri ini. Namun, upaya ini belum tentu berkolerasi langsung dengan kesejahteraan para wartawan. Pasalnya, tingkat bonafiditas masing-masing penerbit pers sangat beragam dan berbeda secara signifikan.

Perusahaan pers secara intistusi ekonomi tentu tak lenih dari sebuah badan usaha yang mempekerjakan para pekerja dengan berbagai keahlian yang berkaitan dengan industri pers. Sementara, bidang kerja wartawan dalam mencari, mengumpulkan dan menyebarkan informasi atau berita kepada publik dengan segala risiko dipandang memiliki kekhususan sehingga secara hukum perlu diperlukan sebagai lex spesialis sesuai dengan UU Pokok Pers yang berlaku.

Dalam pelaksanaan dan pengalaman UKW, sebagaimana ditulis oleh wartawan senior Ahmad Istiqom dalam buku 'Old Journalist will Never Die' diceritakan bahwa banyak wartawan-wartawan di daerah yang mengabdi selama 20-30 tahun, tai masih saja berstatus sebagai koresponden. Banyak pula di antaranya berstatus sebagai wartawan lepas yang digaji berdasarkan jumah berita yang dituois dan dimuat di media pers tempatnya bekerja. Realitas seperti inilah yang dialami Jupernalis Samosir dalam masa pengabdian yang cukup panjang di majalah berita terkemuka, namun berstatus sebagai wartawan lepas atau kontributor tanpa perlindungan dan jaminan kesehatan, jaminan kematian dan hari tua yang sepantasnya.

Meski sering terjadi seorang wartawan atau koresponden di daerah sulit peningkatan statusnya sebagai karyawan tetap karena tidak bisa memenuhi persyaratan yang ditetapkan oleh aturan perusahaan pers bersangkutan. Sebutlah, kesediaan wartawan tersebut untuk ditempatkan di daerah-daerah lain atau ditarik ke kantor pusat media untuk program penambahan 'jam terbang' atau 'penggodokan di kiawah candradimuka' selang beberapa lama. Hambatan-hambatan teknis yang bersifat emosional dan manusawi ini selalu dijadikan alasan pihak pertusahaan pers untuk menggantung statusnya sebagai wartawan lepas hampir selama masa pengabdiannya. ****

Fakhrunnas MA Jabbar adalah wartawan senior, mengabdi lebih 25 tahun.


(1) Komentar

@ , 28/01/2018 | 09:00:17 WIB

Prix Cialis Pharmacie Maroc Cialis Receta Buy Kamagra Jelly In London <a href=http://cialib uy.com>cialis buy online</a> Cialis Zulassung Viagra Biaxin Interaction Dosage Adjust



[ Kirim Komentar ]
Nama
Email
Komentar



(*Masukkan 6 kode diatas)

+ Index OPINI
  Rabu, 02/10/2013-10:55:58
Mengenal Batik sebagai Kebanggaan Nusantara
  Minggu, 28/07/2013-14:28:06
Gus Dur, Islam Radikal, dan Yahudi
  Jumat, 12/07/2013-15:16:52
Jupernalis UKW dan Hari Tua Jurnalis
  Selasa, 04/06/2013-09:20:55
Pemuda Riau Harus kembali Amalkan Pancasila
  Selasa, 28/05/2013-05:56:54
Manuver Politik Negeri Lancang Kuning
  Jumat, 17/08/2012-15:15:50
Perempuan Wajib Berperan Wujudkan Kemerdekaan Setara
  Rabu, 08/08/2012-01:17:26
Operasi Pasar banyak Mudaratnya
  Minggu, 24/06/2012-23:03:35
Belum Ada Kandidat Gubri Pro Rakyat
  Rabu, 13/06/2012-19:26:09
PON dan Burung Pipit
  Kamis, 31/05/2012-07:27:48
Pola Perlawanan Rakyat Lemah
  Kamis, 17/05/2012-06:38:08
Jangan Mau Diperalat Bank
  Jumat, 04/05/2012-20:45:25
LASKAR SUCI
  Sabtu, 21/04/2012-12:31:37
Kartini Pahlawan Ciptaan Lelaki
 
.:: Home | Politik | Peristiwa | Ekbis | Lingkungan | Sport | Hukum | Kesehatan | Iptek | Foto | Galeri | Index ::.
Copyright 2011-2018 RiauKita.com, All Rights Reserved | Redaksi | Info Iklan | Disclaimer Reserved Powered By RiauKita.com