HOME
Sabtu, 20 Juli 2019
Follow:
 
 

Pola Perlawanan Rakyat Lemah
Kamis, 31/05/2012 - 07:27:48 WIB
RIAUKITACOM- Melalui tulisan ini saya ingin menyampaikan bahwa para antropolog mencoba menagkap phenomena pelawanan rakyat kecil terhadap kekuasaan sering lepas dari pengamatan para ilmuan politik dan penguasa. Bahwa tidak alasan bagi rakyat kecil tidak melakukan perlawanan terhadap kekuasaan yang zalim. Kalau kekuasaan bisa dijatuhkan dengan gossip, fitnah, dongeng mengapa harus menguras enerji melakukan konflik secara terbuka

Kajian ini dimulai sejak Foucault (1977, 1979, 1994) menawarkan konsep kekuasaan dan resistensi (perlawanan). Pemikiran kekuasaan dari Foucault tersebut mendapat tempat secara empirik melalui kajian James Scott (2000) Lila Abu-Lughod (1986) Peluso (2006) dan Ong (1987). Bahwa memahami kekuasaan harus dengan cara menyebar tidak hanya berbentuk otoritas semata. Begitu juga cara memahami konflik tidak lagi harus frontal bertemunya dua kekuatan secara langsung, tetapi perlawanan bisa dilakukan oleh siapa saja dalam bentuk yang bermacam-macam, baik secara simbolik maupun menghindar. Kekuasaan yang menyebar dan konflik yang semakin tidak langsung dan perlawanan yang semakin halus menjadikan resistensi semakin cultural.

Foucalut . melihat kekuasaan sebagai seluruh struktur yang menekan dan mendorong tindakan-tindakan lain melalui rangsangan, persuasi atau juga melalui paksaan dan larangan. Kekuasaan tidak datang dari atas ke bawah, tetapi menyebar di mana-mana baik pada individu, organisasi atau institusi. Kekuasaan metafisis yang dimilki seseorang akan membantu orang tersebut memaknai dirinya dan mengidentifikasi dirinya secara mandiri. Oleh karena itu, penyebaran kekuasaan tersebutlah memberi ruang kepada masyarakat yang lemah untuk melakukan resistensi dengan strategi yang dibangun pada konteks mereka sendiri. Anwar Holif (2006) mengindetifikasi resistensi Faucoult memiliki semangat yang sesuai dengan konteks dan ciri yang beragam. Resistensi bisa berupa wujud dua gerakan strategis yang kontradiktif, yaitu melakukan pemberontakan sedangkan yang lain malah mengisolasi diri. Karena manusia sebagai subjek kekuasaan, maka setiap manusia akan melakukan resistensi terhadap kekuasaan lain, tidak mesti berhadapan langsung. Kalau kekuasaan bisa dijatuhkan dengan gossip, fitnah, dongeng mengapa harus menguras enerji melakukan konflik secara terbuka.

Scott (2000) misalnya mencatat pola gerakan sosial sebagai sebuah perlawanan dipandang tidak mampu mewadahai bagian terpenting dari perlawanan kaum tani yang diekspresi melalui kerja seenaknya, mengelabui, taat yang dibuat-buat, mencuri kecil-kecilan, pura-pura bodoh, memfitnah, membakar rumah, menyabot dan seterusnya. Pada studi empiriknya terhadap petani di Kampung Sedaka Malaysia, Scott mengambarkan secara detail perlawanan kaum tani terhadap mesin permanen, dan menghindari persaingan dengan sangat hati-hati, perorangan dan sembunyi-sembunyi.

Kajian Lila Abu-Lughod (1986) di Mesir menunjukkan bahwa perempuan Mesir melakukan perlawanan sehari-hari untuk menghindari kontrol dari keluarga dan lingkungannya. Kaum perempuan menghindar dan melakukan aksi tersembunyi melalui puisi yang bernada sindirian dan menjalin kerjasa sama dengan sesama perempuan.

Sementara kajian Ong (1987) menemukan bentuk perlawanan yang dilakukan perempuan pekerja pabrik di Pantai Selangor. Perempuan pekerja pabrik yang berada dibawah kekuasaan keluarga, pemilik pabrik, mandor, target produksi, di lawan dengan berlama-lama di taoilet, berlama-lama sembahyang, merusak alat produksi, dan apabila memuncak mereka melampiaskan dengan melihat hantu lalu kemasukan. Walaupun resikonya mereka akan diberhentikan dari pabrik tersebut.

Studi Sosiologi Sejarah yang dilakukan oleh Nancy (2006) tentang perhutanan di Jawa menunjukkan bahwa pola-pola perlawanan masyarakat pinggir hutan jati. Mulai dari mencuri hutan, mengeroyok rimbawan, perempuan yang telanjang mencuri jati di sungai, dan gerakan kaum Samin yang tidur diatas tanah yang sedang diukur, berbicara dalam teka-teki dan menolak mengikuti ritual desa.

Kajian-kajian diatas menunjukkan kepada kita bahwa masyarakat lemah mampu melakukan perlawan dengan cara dan konteks sosial mereka bukan hanya terhadap kekuasaan yang melemah tetapi justeru terhadap kekuasan yang sedang kuat. Hal ini disebabkan gejala resistensi tidak melihat kekuasaan hanya bersifat otoritas dari atas ke bawah, tetapi kekuasaan ada pada setiap orang tinggal bagaimana mengotimalkan kekuasaan tersebut untuk diri.


Penulis: Rawa El Amady
(0) Komentar

[ Kirim Komentar ]
Nama
Email
Komentar



(*Masukkan 6 kode diatas)

+ Index OPINI
  Rabu, 02/10/2013-10:55:58
Mengenal Batik sebagai Kebanggaan Nusantara
  Minggu, 28/07/2013-14:28:06
Gus Dur, Islam Radikal, dan Yahudi
  Jumat, 12/07/2013-15:16:52
Jupernalis UKW dan Hari Tua Jurnalis
  Selasa, 04/06/2013-09:20:55
Pemuda Riau Harus kembali Amalkan Pancasila
  Selasa, 28/05/2013-05:56:54
Manuver Politik Negeri Lancang Kuning
  Jumat, 17/08/2012-15:15:50
Perempuan Wajib Berperan Wujudkan Kemerdekaan Setara
  Rabu, 08/08/2012-01:17:26
Operasi Pasar banyak Mudaratnya
  Minggu, 24/06/2012-23:03:35
Belum Ada Kandidat Gubri Pro Rakyat
  Rabu, 13/06/2012-19:26:09
PON dan Burung Pipit
  Kamis, 31/05/2012-07:27:48
Pola Perlawanan Rakyat Lemah
  Kamis, 17/05/2012-06:38:08
Jangan Mau Diperalat Bank
  Jumat, 04/05/2012-20:45:25
LASKAR SUCI
  Sabtu, 21/04/2012-12:31:37
Kartini Pahlawan Ciptaan Lelaki
 
.:: Home | Politik | Peristiwa | Ekbis | Lingkungan | Sport | Hukum | Kesehatan | Iptek | Foto | Galeri | Index ::.
Copyright 2011-2019 RiauKita.com, All Rights Reserved | Redaksi | Info Iklan | Disclaimer Reserved Powered By RiauKita.com