HOME
Jum'at, 24 November 2017
Follow:
Senin, 13/11/2017 - 16:02 WIB
KPK Segera Tahan Bupati Rohul Suparman
Senin, 06/11/2017 - 17:11 WIB
Kritik Presiden Jokowi, Anggota Saracen Diadili
Rabu, 01/11/2017 - 17:05 WIB
Salah Tangkap, Warga tak Bersalah Ditembak Oknum Polisi
 


HUKUM KITA
Senin, 06/11/2017 - 17:11 WIB
Kritik Presiden Jokowi, Anggota Saracen Diadili
Rabu, 01/11/2017 - 17:05 WIB
Salah Tangkap, Warga tak Bersalah Ditembak Oknum Polisi
Sabtu, 07/05/2016 - 10:36 WIB
Mensos: Pengebirian dan Hukuman Sosial Jangan Dianggap Lebay
Selasa, 12/04/2016 - 21:35 WIB
Gaek 52 Tahun Jadi Pebisnis narkona
Kamis, 24/03/2016 - 21:12 WIB
Buku Mahasiswa Ini Berisi Penjualan Sabu dan Ganja
Minggu, 20/03/2016 - 00:40 WIB
3 Kg Sabu dan 1500 Ineks Diamankan BNN
Selasa, 08/03/2016 - 23:21 WIB
Polisi Bekuk Pencuri Spesialis Mesin Pompa Air
Jumat, 04/03/2016 - 15:32 WIB
Polres Kampar Tembak Bandit Bajing Loncat
Rabu, 17/02/2016 - 22:41 WIB
Buronan Kejari Taluk Kuantan Ditangkap Kejaksaan Bali
Senin, 15/02/2016 - 11:15 WIB
Polisi Amankan Agen Ganja dan Upal
 
Salah Tangkap, Warga tak Bersalah Ditembak Oknum Polisi

Reporter : Bangun Sitepu
Rabu, 01/11/2017 - 17:05:52 WIB
RIAUKITACOM-Sungguh apes nasib Jailani (39). Kedua kakinya tidak normal lagi, setelah ditembak petugas Polsek Tungkal Ilir Kabupaten Banyuasin, lantaran dituduh melakukan pencurian dengan pemberatan yang tidak pernah ia lakukan.

Tiga bulan sudah, sejak 30 Juli lalu, dia dikurung di Rumah Tahanan Polsek Tungkal Ilir, hingga putusan praperadilan yang dimohonkannya di Pengadilan Negeri Sekayu dikabulkan oleh hakim tunggal Christoffel Harianja, pada sidang putusan, Senin 30 Oktober 2017.

Hakim menyatakan bahwa penangkapan yang dilakukan petugas Polsek Tungkal Ilir tidak sah secara hukum dan meminta pihak kepolisian membebaskan Jailani.

Menurut pengakuan warga Desa Peninggalan, Kecamatan Tungkal Jaya, Kabupaten Muba tersebut, peristiwa itu bermula saat dia dan rekan-rekannya sedang main kartu di tempat kerja mereka Rumah Makan Arema Dampit, Tungkal Jaya pada 29 Juli 2017, sekira pukul 23.00 WIB.

Tiba-tiba datang 6 anggota polisi langsung meringkus Jailani dengan menodongkan senjata api ke kepalanya. "Awalnya saya kira kami ditangkap karena main kartu. Ternyata bukan, hanya saya saja yang dibawa polisi sementara teman saya lainnya tidak," ungkap juru parkir tersebut, Selasa (31/10/2017).

Kemudian, pria enam anak ini digelandang petugas ke salah satu kamar di penginapan di kawasan Tungkal Jaya. Jailani diciduk dan diintrogasi tanpa surat penangkapan.

"Di sanalah penyiksaan itu dimulai, muka saya, dada, perut, tulang kering kaki, dipukli oleh enam orang polisi berpakaian sipil. Mereka memaksa saya mengakui terlibat pencurian motor. Atas informasi dari, orang berinisial M yang telah ditangkap duluan oleh polisi. Tapi saya tidak mau ngaku, karena memang tidak melakukan," katanya.

Diduga kesal dengan tingkah Jailani yang selalu membantah, penyidik mengacungkan pistol ke arah korban, memaksa nya untuk mengaku. "Polisi itu mengancam, kalau kamu tidak mau mengaku, saya akan ditembak. Sambil memaksa saya untuk tengkurap," katanya.

Jailani tetap dengan pendiriannya, tapi petugas juga tidak main-main akan ancaman mereka. 'Door' satu butir peluru menembus kaki kanan Jailani. Setelah itu menyusul kaki sebelahnya hingga tulang kaki kirinya pecah. "Saat kaki kanan saya ditembak, saya sudah pasrah. Bahkan sempat terpikir hendak membalikkan badan, biar kena dada saya, biar mati sekalian. Tapi terbayang istri dan enam anak saya yang masih kecil," katanya.

Bukti kalau dia tidak bersalah mulai terkuak setelah dia dipertemukan dengan M yang menuduhnya terlibat mencuri motor. "Saat di penjara M mengakui kalau dia terpaksa menyeret nama saya, karena tidak tahan disiksa oleh petugas. Bahkan dia bersedia mebuat surat pernyataan kalau saya tidak terlibat," katanya.

Kemudian melalui kuasa hukumnya, Dodi Irama, Jailani melakukan permohonan Praperadilan ke Pengadilan negeri Sekayu terhadap termohon Kepolisian RI, cq Polda Sumsel, cq Polres Banyuasun, cq Posek Tungkal Ilir. "Alhamdulillah keadilan masih berpihak pada saya, hakim memutuskan penangkapan saya tidak sesuai prosesdur hukum dan saya dibebaskan," katanya.

Dodi menjelaskan, kesalahan termohon (pihak kepolisian Tungkal Ilir) di antaranya melakukan penangkapan terlebih dahulu baru menetapkan tersangka. Kemudian, format surat perintah penyidikan tidak menyebutkan nama tersangka dan delik yang dilanggar. "Maka format surat perintah penyidikan seperti tersebut adalah cacat hukum," katanya.

Sementara itu pihak kepolisian Polres Banyuasin belum mau memberikan keterangan terkait kasus salah tangkap tersebut. Kapolres Banyusin AKBP Yudi SM Pinem melalui Kasat Reskrim AKP Dwi Satya Arian mengatakan pihak pengadilan yang lebih berhak memberi komentar. "Konfirmasi ke hakim saja, atau ke Polsek karena yang nangani kasus ini Polsek," singkatnya.

Sedangkan Kapolsek Tungkal Ilir Iptu Gunawan, beberapa kali dikonfirmasi selalu menolak lantaran masih diperjalnan. "Saya masih nyetir, lain kali saja ya," katanya.(sumber:okezone.com)

 
.:: Home | Politik | Peristiwa | Ekbis | Lingkungan | Sport | Hukum | Kesehatan | Iptek | Foto | Galeri | Index ::.
Copyright 2011-2014 RiauKita.com, All Rights Reserved | Redaksi | Info Iklan | Disclaimer Reserved Powered By www.pajriexhost.com