HOME
Minggu, 21 Oktober 2018
Follow:
Rabu, 06/06/2018 - 21:39 WIB
Diserang Isu Hoax, Cagub Riau Laporkan Akun WhatsApp Penyebar Fitnah ke Polda
Selasa, 29/05/2018 - 16:40 WIB
4 Napi Bangkinang Ketahuan Nyambu di Sel
Kamis, 25/01/2018 - 13:11 WIB
Sekerikat Pekerja PTPN V Tolak Eksekusi Lahan
 


HUKUM KITA
Selasa, 29/05/2018 - 16:40 WIB
4 Napi Bangkinang Ketahuan Nyambu di Sel
Kamis, 25/01/2018 - 13:11 WIB
Sekerikat Pekerja PTPN V Tolak Eksekusi Lahan
Selasa, 23/01/2018 - 23:21 WIB
Oknum Honorer Pemprov Riau Mencuri di Kantornya
Senin, 13/11/2017 - 16:02 WIB
KPK Segera Tahan Bupati Rohul Suparman
Senin, 06/11/2017 - 17:11 WIB
Kritik Presiden Jokowi, Anggota Saracen Diadili
Rabu, 01/11/2017 - 17:05 WIB
Salah Tangkap, Warga tak Bersalah Ditembak Oknum Polisi
Sabtu, 07/05/2016 - 10:36 WIB
Mensos: Pengebirian dan Hukuman Sosial Jangan Dianggap Lebay
Selasa, 12/04/2016 - 21:35 WIB
Gaek 52 Tahun Jadi Pebisnis narkona
Kamis, 24/03/2016 - 21:12 WIB
Buku Mahasiswa Ini Berisi Penjualan Sabu dan Ganja
Minggu, 20/03/2016 - 00:40 WIB
3 Kg Sabu dan 1500 Ineks Diamankan BNN
 
Mensos: Pengebirian dan Hukuman Sosial Jangan Dianggap Lebay

Reporter : Bangun Sitepu
Sabtu, 07/05/2016 - 10:36:56 WIB
RIAUKITACOM-Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa mengatakan, perlindungan sosial terhadap anak dan perempaun membutuhkan upaya serius yang melibatkan semua pihak terkait.

"Perlu keseriusan dalam memberikan perlindungan terhadap anak dan perempuan, "ujar Mensos saat kepada riaukita.

Keseriusan, kata Mensos, dari semua pihak benar-benar diperlukan. Sebab, jika tidak hanya akan menambah daftar korban-korban baru berikutnya lalu dibicarakan kembali tanpa upaya dan solusi yang lebih konkret.

"Tanpa adanya keseriusan upaya dan solusi yang lebih konkret dari semua pihak, hanya akan menambah daftar korban korban baru berikutnya," tegasnya. 

Sejak Februari 2015, Kementerian Sosial (Kemensos) telah menyampaikan agar pelaku tindak kekerasan seksual terhadap anak dan perempaun diberikan hukuman tambahan agar memberikan efek jera.

"Pelaku tindak kekerasan terhadap anak dan perempuan agar diberikan tambahan hukuman untuk memberikan efek jera, " ucapnya.

Hukuman tambahan tersebut, yaitu ditampilkan di baliho besar ruang publik dan media sosial agar bisa dilihat masyarakat, sehingga efek jera dirasakan oleh pelaku agar tidak menjadi residivis atau predator selanjutnya.

"Hukuman tersebut, saya kira bisa memberikan efek jera yang efektif sehingga pelaku tidak menjadi residivis dan predator selanjutnya. Namun, usulan itu malah dianggap lebay," tandasnya.

Para pelaku juga harus diberikan hukuman maksimal dalam putusan pengadilan dan bukan sebaliknya. Hukuman maksimal agar pihak yang ada niat jahat berpikir berkali-kali karena harus menghadapi hukuman berat.

"Perlu diberikan hukuman maksimal dalam putusan pengadilan bagi pelaku sekaligus ada efek jera dan bagi pihak yang ada indikasi mencoba berbuat jahat berpikir berkali-kali," terangnya.

Selain itu, hukuman kebiri bagi pelaku perlu tindak kekerasan terhadap anak dan perempuan perlu diterapkan di Indonesia. Adapun teknis pelaksanaan bermacam-macam, seperti bedah syaraf libido atau mengoleskan zat kimia tertentu dengan efek dan masa berlaku mulai 10, 12 hingga 50 tahun.

"Tindakan pengebirian dilakukan dengan operasi syaraf libido ataupun mengoleskan zat kimi dengan masa efektif 10, 12 atau hingga 50 tahun," tandasnya.

Semua insitusi baik pemangku adat, tokoh masyarakat dan pemuka agama bergandengan tangan memupuk kembali kearifan lokal untuk desiminasi kehidupan lebih harmonis, toleransi, serta membangun kesabaran lebih baik lagi.

 
.:: Home | Politik | Peristiwa | Ekbis | Lingkungan | Sport | Hukum | Kesehatan | Iptek | Foto | Galeri | Index ::.
Copyright 2011-2018 RiauKita.com, All Rights Reserved | Redaksi | Info Iklan | Disclaimer Reserved Powered By RiauKita.com