HOME
Jum'at, 22 08 2014
Follow:
Kamis, 21/08/2014 - 13:23 WIB
Korupsi Dana Bansos, Anggota DPRD Bengkalis Diperiksa sebagai Saksi
Kamis, 21/08/2014 - 13:17 WIB
Diduga DPRD Pekanbaru Terlibat Korupsi Bansos Rp 11 Miliar
Rabu, 20/08/2014 - 06:06 WIB
Anas: Perusahaan Nazarudin Beri Uang ke Marzuki dan Andi
 


HUKUM KITA
Kamis, 21/08/2014 - 13:17 WIB
Diduga DPRD Pekanbaru Terlibat Korupsi Bansos Rp 11 Miliar
Rabu, 20/08/2014 - 06:06 WIB
Anas: Perusahaan Nazarudin Beri Uang ke Marzuki dan Andi
Senin, 11/08/2014 - 13:56 WIB
Ratu Atut Dituntut 10 Tahun Penjara
Sabtu, 09/08/2014 - 19:50 WIB
Tersangka Pembunuh Bocah di Riau Mengaku Dapat Perintah Sang Dukun
Sabtu, 09/08/2014 - 16:49 WIB
Vonis Rusli Zainal Dikorting, MA Diminta Periksa Ketua Pengadilan Banding
Kamis, 07/08/2014 - 06:03 WIB
Soal Pemerasan Terhadap TKI, KPK Akan Panggil BNP2TKI dan Kemenakertrans
Rabu, 06/08/2014 - 15:50 WIB
Ini Alasan Hakim PT Riau Kurangi Hukuman Rusli Zainal 4 Tahun
Jumat, 18/07/2014 - 17:50 WIB
Dituntut 10 Tahun, Andi Mallarangeng Divonis 4 Tahun Penjarar
Kamis, 10/07/2014 - 19:13 WIB
KPK Tahan Wali Kota Palembang dan Istrinya
Rabu, 02/07/2014 - 18:00 WIB
Pasca Vonis Anggoro, KPK Segera Jerat MS Kaban
 
Kurangi Konsumsi Makanan Olahan Kalau Tak Mau Ginjal Terluka

Reporter :
Selasa, 05/11/2013 - 18:52:01 WIB
RIAUKITACOM-Menghilangkan lemak perut dan membatasi konsumsi makanan olahan, terutama yang mengandung fosfor seperti makanan pesan antar atau cepat saji tak sekadar mengurangi beban timbangan. Sebuah studi baru pun menyatakan pengurangan asupan fosfor dapat mengurangi risiko sakit ginjal.

Seperti dilansir Web MD, Selasa (5/11/2013), fosfor kerap ditambahkan dalam makanan olahan untuk menambah cita rasa dan memperpanjang daya tahan makanan tersebut. Ketua tim peneliti, Dr. Alex Chang dari Johns Hopkins University, Baltimore menambahkan secara alami kandungan fosfor yang tinggi juga seringkali ditemukan dalam susu, protein hewani dan protein nabati.

Namun ternyata dari pengamatan terhadap 500 orang dewasa obesitas yang diminta menjalankan gaya hidup sehat diketahui bahwa mereka yang lingkar pinggangnya berkurang dan membatasi konsumsi makanan yang mengandung fosfor dilaporkan mengalami penurunan kadar protein tertentu dalam urinnya, yaitu albuminuria, yang selama ini diketahui sebagai salah satu gejala awal penyakit ginjal.

Manfaat itu sudah terasa hanya dalam kurun enam bulan periode studi. Dalam enam bulan tersebut, partisipan yang mengalami rata-rata pengurangan lingkar pinggang sebanyak 1,7 inci juga mengalami pengurangan protein albuminuria dalam urine sebanyak 25 persen. Sedangkan pada partisipan yang mengalami pengurangan ekskresi fosfor sebanyak 314 miligram, protein albuminuria dalam urinenya juga berkurang hingga sebesar 11 persen.

Beberapa studi lain sebelumnya telah mengungkapkan bahwa program penurunan berat badan bisa jadi memperlambat perkembangan penyakit ginjal, namun studi dari AS ini adalah yang pertama memastikan pengurangan lemak perut dan konsumsi fosfor sebagai salah satu cara untuk mencegah sakit ginjal sejak dini. Hal ini dikemukakan oleh Dr. Joseph Vassalotti dari National Kidney Foundation.

"Aturan praktisnya adalah jika makanan itu dikemas secara khusus maka dapat dipastikan makanan tersebut mengandung fosfor dalam kadar tinggi. Padahal zat aditif fosfor 90 persen diserap oleh tubuh," kata Vassalotti.

Untuk membatasi konsumsi fosfor, amati label dan cari tulisan 'PHOS' yang tercantum pada label. Tulisan itu mengindikasikan adanya kandungan fosfor dalam makanan kemasan tersebut. "Namun hati-hati karena fosfor tak melulu dicantumkan dalam label makanan, sehingga Anda sebaiknya tahu apa sajakah makanan yang mengandung fosfor," saran Vassalotti.

Makanan yang mengandung fosfor dengan kadar tinggi di antaranya:
- Makanan olahan seperti kola, sereal dan air minum yang diberi rasa tertentu
- Produk susu seperti keju, susu, krim, es krim dan yogurt
- Protein hewani seperti daging deli, daging organ dalam, tiram dan sarden
- Kacang-kacangan yang dikeringkan, kacang polong, kacang tanah dan biji-bijian, termasuk selai kacang dan selai kacang jenis lainnya, cokelat, baik berupa minuman maupun puding cokelat.(detik.com)

 
.:: Home | Politik | Peristiwa | Ekbis | Lingkungan | Sport | Hukum | Kesehatan | Iptek | Foto | Galeri | Index ::.
Copyright 2011-2014 RiauKita.com, All Rights Reserved | Redaksi | Info Iklan | Disclaimer Reserved Powered By www.pajriexhost.com