HOME
Minggu, 28 Mei 2017
Follow:
 
 
Suku Sakai, Talang Mamak dan Suku Kubu Berasal dari Pagaruyung

Reporter : Nanda
Kamis, 21/01/2016 - 16:00:10 WIB
RIAUKITACOM -Sukai, Suku Talang Mamak di Riau dan suku Kubu alias suku Rimba masih satu komunitas yang sama. Mereka berasal dari kerajaan Pagaruyung. Mereka lari dari Sumatera Barat karena masuknya Islam.

Kisah itu diungkapkan dari keturunan kerajaan Pagaruyung di Sumbar yang diundang khusus dalam peresmian rumah adat Suki Sakai di Desa Kusumbo Ampai, Kecamatan Mandau, Kabupaten Bengkalis, Riau.

Datuk Muhamad Taufik Toyib dari Pagaruyung, dengan jabatan Daulat Raja Alam Pagaruyung datang ke desa tersebut. Dia diundang khusus dari kelompok Suku Sakai untuk turut menghadiri peresmian rumah adat Sakait yang didanai Sinarmas Forestry di Riau. Peresmiannya dilakukan Selasa (19/01/2015) di buka oleh Pejabat Bupati Bengkalis, Ahmad Syarofi.

Kedatangan Datuk Taufik ini memiliki arti buat suku Sakai. Datuk Taufik mengenakan pakaian adat Minang serba hitam dengan penutup kepala hitam bercorak kuning. Dia datang tak sendiri, sejumlah pemuka adat Minang Kabau turut hadir.

Mengapa mereka bersedia hadir jauh-jauh dari Sumbar ke Riau nan juah di pelosok desa? Jawabannya sederhana. Bahwa komunitas masyarakat adat Sakai ternyata berasal dari kerajaan Pagaruyung.
Dalam sambutannya Taufik mengupas kilas balik sejarah Sakai dengan kerajaan Pagaruyung.

"Suku Sakai asal muasalnya dari kerajaan Pagaruyung. Kami sudah terpisah sejak 6 abad lalu. Sakai bukan suku terasing, karena peradabannya masuk dalam kelompok Melayu Tua, seperti Minang, Batak dan suku Tulang Bawang di Lampung," kata Taufik.

Masyarakat Sakai adalah bagian dari kerajaan Pagaruyung. Tidak hanya Sakait, Suku Talang Mamak, suku Kubu alias Orang Rimba juga berasal dari Pagauryung. Mereka mengasingkan diri dari Pagaruyung, karena adanya polemik politik sekitar 600 tahun lalu. Kala itu, Islam mulai masuk dan meminta agar kerajaan Pagaruyung untuk menjadi kesultanan Islam.

"Terjadi gejolak politik di internal kerajaan Pagaruyung, ada yang menolak jadi kerajaan Islam, ada yang tetap berpegang dengan adat. Di sinilah terjadi perselisihan, sehingga sebagian meninggalan kerajaan Pagaruyung," beber Taufik.

Perginya sebagian kerajaan Pagaruyung dari Minang Kabau, ada yang ke Riau, dengan rombongan Datuk Santono Rajo. Rombongan ini menetap lebih awal di Desa Kesumbo Ampai. Kelompok yang keluar dari Pagaruyung ini lantas dijuluki komunitas adat  Sakai.

Sebagian lagi lari ke Kabupaten Indragiri di Riau yang menjadi suku Talang Mamak dengan pimpinan Datuk Tumenggung. Terakhir kelompok dari Pagaruyung ini mengasingkan diri ke Jambi yang kini dikenal dengan suku Kubu atau Orang Rimba.

"Kehadiran saya ke sini, untuk menjalin silahtuhrahmi dengan suku Sakai yang tak lain adalah anak dan ponakan kami yang berasal dari Pagaruyung. Mari kita lupakan persengketaan nenek moyang kita dulu. Kini kita harus bersatu dengan masyarakat adat manapun untuk membangun negara ini," kata Taufik.

Meninggal kerajayaan Pagaruyung, terbagi menjadi tiga kelompok yang menetap di dalam kawasan hutan belantara. Sakai ada di Kabupaten Bengkalis yang dulunya masih menyatu dengan Kabupaten Siak.

Sakai menetap di kawasan hutan yang bergantung pada kehidupan sungai dan kerahaman alam. Mereka dibelenggu kemiskinan selama ratusan tahun, padahal mereka hidup di atas lumbung minyak terbesar di Indonesia.

Sebagian lagi, pelarian dari Pagaruyung menetap di kaki bukit Tiga Puluh yang kini statusnya menjadi Taman Nasional Bukit Tigapuluh. Lokasi ini berada di Kabupaten Inhu yang berbatasan dengan Jambi. Mereka dikenal dengan sebutan Talang Mamak.

Sedangkan yang ke Jambi, mereka menetap di kawasan Taman Nasional di Jambi yang disebut Suku Kubu.

"Sakai, Talang Mamak, dan Kubu adalah saudara dekat kami. Kami terpisahkan karena ada politik di 6 abad yang lalu. Kami tak mau, mereka disebut suku Terasing," kata Taufik.

Konflik internal di kerajaan Pagaruyung, telah memisahkan mereka cukup lama. Namun demikian, keturunan mereka tetap menceritakan bahwa asal usul mereka dari Tanah Minang. Walau sebagian sedikit sekali mengetahui sejarah mengapa mereka harus tersingkirkan dari kerajaan.

"Jangan lagi kita mengingat kegaduhan nenek moyang kita dulu. Mari kita bersatu, untuk saling berpegang tangan untuk membangun. Adat istiadat, tetap kita kita junjung, karena pemerintah Indonesia juga mengakui keberadaan suku adatnya," kata Taufik.


 
.:: Home | Politik | Peristiwa | Ekbis | Lingkungan | Sport | Hukum | Kesehatan | Iptek | Foto | Galeri | Index ::.
Copyright 2011-2014 RiauKita.com, All Rights Reserved | Redaksi | Info Iklan | Disclaimer Reserved Powered By www.pajriexhost.com